Back to top

Ringkasan Studi Kasus Pencemaran Lingkungan Akibat Limbah Industri Pengolahan Ikan



Tugas Individu

RINGKASAN STUDI KASUS

Dampak Pencemaran Lingkungan
Akibat Limbah Industri Pengolahan Ikan
di Muncar - Banyuwangi


A. LATAR BELAKANG
Sebagian besar industri yang ada di Kecamatan Muncar Banyuwangi ini tumbuh secara alami, salah satunya adalah industri pengolahan ikan. Industri ini berkembang sejak zaman penjajahan Belanda. Pada awalnya industri ini merupakan industri kecil, tetapi saat ini telah berkembang menjadi industri besar yang berorientasi ekspor.
Akibat tingkat pemahaman tentang lingkungan dan sistem manajemen limbah oleh masyarakat maupun tingkat ketaatan terhadap hukum lingkungan yang masih kurang serta lemahnya penegakkan hukum lingkungan yang berlaku, maka industri pengolahan ikan ini banyak menimbulkan persoalan yang semakin komplek terhadap lingkungan.

B. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengelolaan limbah industri di Muncar belum dilakukan secara maksimal sehingga menimbulkan perubahan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang terjadi dapat bersifat positif dan bersifat negative. Perubahan positif seperti terbukanya lapangan kerja baru, peningkatan kesejahteraan masyarakat, meningkatnya pendapatan daerah, berkembangnya wilayah kota dan lain-lain harus dijaga dan ditingkatkan agar dapat memberikan menfaat yang sebesar-besarnya. Sedangkan perubahan yang bersiffat negative seperti adanya pencemaran terhadap lingkungan, meningkatnya kebutuhan lahan yang kurang terkendali dan lain-lain harus dikendalikan agar tidak menimbulkan kerugian.
Dampak dari kegiatan industri di Muncar yang paling besar terlihat di lingkungan perairan sampai saat ini telah terjadi beberapa dampak akibat pencemaran air ini, antara lain :


Dampak Terhadap Estetika Lingkungan
Semakin banyaknya jumlah limbah yang masuk ke lingkungan tanpa pengolahan menyebabkan semakin beratnya beban lingkungan untuk menampung dan melakukan degradasi (self purification) terhadap limbah tersebut. Jika kemampuan lingkungan penerima limbah sudah terlampaui, maka akan mengakibatkan pencemaran dan terjadi akumulasi materi di lingkungan bersangkutan. Penumpukan materi yang tak terkendali akan menimbulkan berbagai dampak seperti bau menyengat, pemandangan yang kotor dan menimbulkan masalah estetika lain yang tidak diharapkan.
Dampak Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Limbah merupakan bahan buangan yang dianggap sudah kurang efektif dan kurang layak untuk dimanfaatkan kembali oleh perusahaan, namun ternyata banyak masyarakat yang jeli melihat bahwa didalam buangan tersebut masih banyak mengandung minyak dan bahan padat yang masih dapat dimanfaatkan kembali. Kandungan minyak dan padatan tersebut, meskipun jumlahnya sudah sangat minim tetapi ternyata masih dapat dikais dan dikumpulkan serta dimanfaatkan untuk memproduksi minyak ikan dan padatannya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan tepung ikan. Dengan adanya potensi untuk pengambilan kandungan minyak dan padatan tersebut, mengundang aktivitas beberapa masyarakat untuk melakukan kegiatan pengambilan minyak dan padatan tersebut.
Dampak Terhadap Kualitas Air Permukaan
Kualitas air sungai dan air laut di pantai wilayah Muncar, telah menunjukkan bukti bahwa kualitasnya telah dibawah standar kualitas air permukaan. Hal ini menunjukkan bahwa telah ada pembuangan limbah yang jumlahnya diatas daya tampung lingkungan penerima, sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas air yang ada.
Dampak Terhadap Kehidupan Biota Air
Dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah, maka akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut di dalam air limbah tersebut. Dengan demikian akan menyebabkan kehidupan  yang ada di dalam perairan yang membutuhkan oksigen akan terganggu dan mengurangi perkembangannya. Selain disebabkan karena kurang oksigen, kematian kehidupan di dalam air dapat juga disebabkan oleh adanya zat beracun. Selain kematian ikan-ikan, dampak lainnya adalah kerusakan pada tanaman atau tumbuhan air.
Dampah Terhadap Kesehatan
Pengaruh langsung terhadap kesehatan banyak disebabkan oleh kualitas air bersih yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengingat sifat air yang mudah sekali terkontaminasi oleh berbagai mikro organism mudah sekali melarutkan berbagai materi. Dengan kondisi sifat yang demikian air mudah sekali berfunfsi sebagai media penyalur ataupun penyebar penyakit.

C. PELUANG PENELITIAN SELANJUTNYA
Masalah pencemaran lingkungan di Muncar merupakan masalah bersama antar pengusaha, masyarakat dan Pemda. Maka untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat turut serta dalam mencari solusi penanggulangan pencemaran lingkungan akibat pembuangan imbah industri pengolahan ikan dan mengatasinya dengan menggunakan teknologi pengelolaan yang tepat guna.

DAFTAR PUSTAKA
Kedeputian Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan< KLH, “Laporan Akhir Pengelolaan Lingkungan Industri Pengolahan Ikan di Muncar, Banyuwangi,” tahun 2007.

Raka, I G., Zen, M.T., Soemarwoto, O., Djajadiningrat, S.T., and Saidi, Z. (1999). Paradigm Produksi Bersih : mendamaikan pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Penerbit Nuansa, Bandung, Indonesia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Artikel Ilmiah PEMBUATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH ABU KETEL, JARAK DAN GLISERIN



Tugas 1
ARTIKEL ILMIAH

Pengelolaan Dampak Industri

PEMBUATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH ABU KETEL,
JARAK DAN GLISERIN

Nama Penulis          : Samsudi Raharjo
Tahun Terbit            : 2013
Sumber Jurnal        : TRAKSI Vol. 13 No. 1 Juni 2013
Tingkat pencemaran yang disebabkan oleh sisa pembakaran pabrik gula sudah sangat mengkawatirkan terutama pada saat musim kemarau karena debu yang berupa partikel sisa pembakaran berterbangan kemana-mana yang sangat menggangu pernafasan dan aktifitas warga. Pada musim penghujan tingkat pencemaran debu agak berkurang tetapi bau yang ditimbulkan terasa menyengat. Dengan demikian diperlukan suatu inovasi yang lebih bermanfaat.
Untuk mengatasi partikel debu ini sekaligus memanfaatkan limbahnya adalah dengan membuat partikel debu menjadi briket. Hanya saja perlu pembuktian untuk mengetahui seberapa besar nilai kalor yang terkandung di dalam briket sisa pembakaran tersebut. Sehingga pada akhirnya nanti dapat menentukan klasifikasi briket sisa pembakaran, apakah layak menjadi energi alternatif untuk mengantikan bahan bakar minyak.
Briket bioarang merupakan bahan bakar alternatif sebagai upaya turut mengatasi masalah semakin menipisnya persediaan minyak bumi dan semakin mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan bahan bakar. Keunggulan bioarang, selain tidak kalah kualitasnya dengan batubara atau bahan bakar jenis arang lainnya, juga bahan bakunya murah banyak tersedia karena berasal dari sampah atau bahan-bahan lain yang tidak berguna dan teknologi yang dipakai untuk mengolahnya cukup sederhana.
 Briket bioarang dari limbah abu ketel, pada saat proses pencampuran dengan limbah jarak dan gliserin, dapat membentuk tekstur yang padat, sehingga setelah dicetak menjadi bongkahan briket tidak mudah rusak, memiliki masa bakar jauh lebih lama, lebih aman, mudah disimpan dan dipindah-pindahkan, menghasilkan aroma lebih sedap baik bagi orang yang menggunakannya maupun bagi masakan yang diolahnya sehingga mudah diterapkan oleh masyarakat luas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ringkasan Jurnal Life Cycle Assessment Pabrik Semen



Tugas 2

RINGKASAN JURNAL

Life Cycle Assessment Pabrik Semen
PT Holcim Indonesia Tbk.
Pabrik Cilacap:
Komparasi antara Bahan Bakar Batubara dengan Biomassa


Nama Penulis          : Taufan Ratri Harjanto, Moh. Fahrurrozi, I Made Bendiyasa
Tahun Terbit            : 2012
Sumber Jurnal        : Jurnal Rekayasa Proses, Vol. 6, No. 2, 2012

A. LATAR BELAKANG
PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap merupakan pabrik semen pertama di Jawa Tengah, yang dikenal sebagai produsen semen serbaguna (PPC/Portland Pozzolan Cement) berdasarkan SNI 15-0302-2004 dengan kapasitas produksi 2,6 juta ton/tahun dan sudah menggunakan energi alternatif biomassa, salah satunya sekam padi dari pertanian mulai tahun 2007, sehingga jumlah CO2 per ton yang dihasilkan dalam kegiatan operasional sehari-hari berhasil dikurangi hingga 4%, sedangkan konsumsi air bisa ditekan hingga 16%.
Penggantian bahan bakar batubara dengan bahan bakar lain khususnya biomassa, akan menimbulkan suatu permasalahan baru  yaitu, berapa besar kontribusi emisi (gas buang) dan dampak lain yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar alternatif tersebut didalam industri semen. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah dengan metode Life Cycle Assessment / LCA.
Life Cycle Analysis (LCA) atau sering juga disebut Life Cycle Assessment yang merupakan sebuah metode berbasis cradle to grave (analisis keseluruhan siklus dari proses produksi hingga pengolahan limbah) yang digunakan untuk mengetahui jumlah energi, biaya dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh tahapan daur hidup produk dimulai dari saat pengambilan bahan baku sampai dengan produk itu selesai digunakan oleh konsumen.

B. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis kontribusi dampak terhadap lingkungan dengan 4 skenario penggunaan bahan bakar: (1) 100% batubara, (2) campuran 90% batubara dan 10% biomassa, (3) campuran 50% batubara dan 50% biomassa, (4) 100% biomassa, dengan basis 1000 kg produk semen, diperoleh nilai kontribusi total berturut-turut 2,78 x10 -1 Pt, 2,24 x10 -1 Pt, 1,57 x10 -1 Pt, dan 8,50 x10 -2 Pt. Kategori dampak global warming, respiratory inorganic dan resources merupakan kontributor terbesar dari total dampak terhadap lingkungan. Analisis perbaikan dan rekomendasi mengurangi dampak yang terjadi yaitu mengganti angkutan truck pasir silika dengan kereta api, bahan bakar biomassa menggunakan miscanthus giganteus dan melakukan penghijauan.

C. PELUANG PENELITIAN SELANJUTNYA
Untuk meningkatkan kualitas lingkungan, hasil dari  penelitian  berdasarkan  analisis perbaikan maka direkomendasikan:
(1)  Alat transportasi pengangkut pasir silika diganti dengan kereta api untuk mereduksi pencemaran terhadap  lingkungan.
(2)  Secara bertahap dilakukan substitusi batubara dengan biomassa. Penggunaan bahan bakar 50% batubara dan 50% biomassa adalah yang paling memungkinkan.
(3)  Pengembangan biomassa miscanthus giganteus sebagai  bahan  susbstitusi  batubara  perlu dilakukan kerena miscanthus memiliki potensi sebagai tanaman khusus bahan bakar non tanaman pangan, sehingga harga akan cenderung stabil.
(4)  Melakukan penghijauan dan revegetasi di daerah pantai, sebagai investasi biomassa dan mengurangi pencemaran lingkungan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS